Pesan-Pesan

Minggu, 10 November 2013

HASIL KAJI TERAP TH. 2013 DI BP KEC. BINUANG






BAB I
PENDAHULUAN


A.     LATAR BELAKANG
Penggunaan model tanam jejer legowo saat ini sudah banyak diterapkan oleh petani. Para petani di  wilayah kecamatan  Binuang mengenal model tanam ini dengan sebutan tanam pakai gang dan tanam pakai blek. Menurut Sekretariat Badan Koordinas Penyuluh, (2012) tanam jejer legowo adalah pengaturan jarak tanam padi dengan pola berselang-seling dengan mengosongkan satu baris. Umumnya yang digunakan adalah model jejer legowo 2:1, 3:1 dan 4:1. BPTP lampung (2013) menambahkan pada jejer legowo juga dapat diterapkan model  4:1 dan 5:1.
Kelebihan  penerapan tanam model jejer legowo dibandingkan dengan tananm tegel yaitu: 1) rumpun tanaman yang berada dipinggir lebih banyak, 2)terdapat ruang kosong sebagai tempat pengaturan air dan saluran pengendalian keong mas, 3)pengendalian hama penyakit dan gulma lebih mudah, 4)pada tahap awal areal pertanaman lebih terang sehingga kurang disukai tikus, 5) pengunaan pupuk lebih berdaya guna.
Pola yang utuh sebenarnya adalah dengan menyisipkan tanaman pada baris yang dikosongkan kebaris yang di sebelahnya. Manfaat dari penyisipan ini adalah  seolah-olah tanaman berada pada barisan pinggir pematang dan rumpun tanaman menjadi lebih banyak.
Berbeda dengan teorinya, penerapan dilapangan oleh petani yang menerapkan model tanam jejer legowo sangat jarang membuat sisipan. Dari beberapa kesempatan berdiskusi dengan petani hal disebabkan beberapa masalah, diantaranya sebagai berikut: 1) petani belum banyak mengetahui bahwa pada model tanam jejer legowo untuk memperbanyak rumpun tanaman harus ada sisipan, 2) ada anggapan bahwa dengan atau tanpa sisipan produksinya sama, 3) pola jejer legowo yang digunakan masih beragam, misal ;  7:1, 8:1 ataupun 10:1.
Bersadarkan pada permasalahan di atas  maka Balai Penyuluhan (BP) Binuang melaksanakan demonstrasi kaji terap dilahan sawah percontohan BP Binuang. Kaji Terap ini dilaksnakan dengan menitikberatkan pada model tanam jejer legowo 5:1. Dan membandingkan produksi antara jejer legowo 5:1 dengan sisipan dan , jejer legowo tanpa sisipan dan tanam menggunkan sistim tegel. Semua model tanam ini dilakukan pada  satu areal dan waktu yang sama. Varietas padi yang digunakan adalah IR 64.
               

A.      TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan kaji terap ini adalah:
a.      Memberikan informasi kepada petani cara sederhana dan mudah dilaksanakan, namun dapat memberikan keuntungan yang lebih baik lagi.
b.      Agar petani mau dan mampu menerapkan tanam model jejer legowo
c.       Menunjukan hasil yang lebih baik kepada pelaku utama melalui tanam model jejer legowo.
d.      Media belajar secara langsung bagi penyuluh lingkup Balai Penyuluhan Binuang tentang budidaya padi dengan menerapkan tanam model jejer legowo 5:1


BAB II
WAKTU DAN LOKASI DEMONSTRASI KAJI TERAP


Demonsttrasi kaji terap dilaksanakan di lahan percobaan Balai Penyuluhan Binuang, Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin. Lama pelaksanaan adalah satu musim tanam, MT II 2013.


BAB III
MATERI DAN METODE


3.1. BAHAN DAN ALAT
            Bahan yang digunakan adalah benih padi varietas IR 64, pupuk NPK pelangi,   insektisida dan herbisida.
            Alat yang digunakan seperangkat alat pertanian, seperti;  cangkul, sabit, tali, meteran, timbangan dan alat tulis.
3.2. METODE
            Semaian padi yang telah berumur 19 hari ditanam dengan 3 model tanam dilahan sawah yang sudah siap tanam. Model tanam yang digunakan adalah:
1.      Tanam jejer legowo 5:1 dengan sisipan (50x(25x12,5)
2.      Tanam jejer legowo 5:1 tanpa sisipan (50(25x25)
3.      Tanam tegel (25x25)
3.3.            PELAKSANAAN KAJI TERAP


No
Kegiatan
Tanggal Pelaksanaan
1
Pengolaha Tanah I
10 Februari 2013
2
Pengolahan Tanah II + Pemberian Pupuk Organik
24 Februari 2013
3
Semai
1 Maret 2013
4
Tanam
20 Maret 2013
5
Pemupukan
2 April 2013 (hanya 1x Pemupukan, dosis NPK 300 kg/Ha)
6
Panen/Ubinan
13 Juni 2013
  
3.4. PENGAMATAN
            Hasil akhir yang diamati adalah, hasil ubinan dari ketiga model tanam yang diterapkan.
           

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. HASIL
            Hasil ubinan yang dilakukan pada ke-tiga model tanam yang diterapkan adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil ubinan demonstrasi kaji terap berdasarkan model tanam.
No
Model Tanam
Hasil Ubinan (Kg)
1
Jejer legowo dengan sisipan (JLDS)
3,7(2)
2
Jejer legowo tanpa sisipan (JLTS)
4,3(1)
3
Tanam Tegel (TT)
3,3(3)
           
Hasil ubinan menunjukan bahwa hasil   JLTS  lebihtinggi dibandingkan dengan hasil JLDS dan tegel.  Perbedaan hasil ini dikarenakan, berdasarkan hasil pengamatan dilapangan kaji terap bahwa JLDS  memiliki jumlah anakan yang sedikit dan malai yang lebih kecil dibandingkan dengan JLTS.  Selain itu karena jarak tanam JLDS (50(25x12,5)bisa menjadi terlalu rapat sehingga terjadi  persaingan mendapatkan  unsur hara tanaman.

            Hasil lainnya adalah bahwa tanam dengan Jejer legowo baik JLDS ataupun JLTS  lebih tinggi hasilnya dibandingkan dengan tanam tegel, hal ini sesuai dengan prinsif dan tujuan dari tanam jejer  legowo. Menurut (BBPADI, 2009) Selain itu, tanaman yang berada di pinggir diharapkan memberikan produksi yang lebih tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik, mengingat pada sistem tanam jajar legowo terdapat ruang terbuka seluas 25-50%, sehingga tanaman dapat menerima sinar matahari secara optimal yang berguna dalam proses fotosintesis.
  

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1   KESIMPULAN
     Kesimpulan dari demonstrasi kaji terap ini adalah:
1.      Tanam model jejer legowo tanpa sisipan produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan tanam model jejer legowo dengan sisipan
2.      Tanam model jejer legowo dengan sisipan dan jejer legowo tanpa sisipan produksinya lebih tinggi dibandingkan dengan tanam tegel


5.2.   SARAN
            Selain tanam model jejer legowo dengan jarak tanam yang lebih lebar perlu juga dilakukan kaji terap dengan model SRI.

Dokumentasi Kegiatan

 1 HST

 1 MST

 3 MST


 BUNTING

 SIAP PANEN

 PEERONTOKAN SAMPEL UBINAN

PENIMBANGAN SAMPEL UBINAN

Cat  : Insya Allah utk Kaji Terap Tahun 2014 akan mencoba  metode SRI (System Rice Intensification)

Rabu, 06 November 2013

Pertanian di media Radio dan TV Nasional ...?




"Indonesia adalah negara ......." , "Agrariiiiiiisssss...Buuuuu ..."ujar anak2 serempak menjawab.

Pemahaman ttg negara indonesia adalah negara agraris sdh menjadi kefahaman nasional di tengah kita,
hal ini sebenarnya juga tlah ditindaklanjuti dengan dukungan berbagai program dari pihak pemerintah melalui kementerian Pertanian untuk mengembangkannya walaupun mungkin hasilnya masih belum maksimal, .... namun ada satu hal yang mengganjal hati kami ketika mencoba meng Klik di situs pencari kata kunci "acara pertanian di TV Indonesia" , atau TV petanian dst...dst... ternyata kami tidak menemukan satupun acara yang berbau pertanian secara khusus,....?? berbeda kalo kita klik "infotainmen, infor artis, info hiburan,...lawak" maka akan anda temukan ratusan judul acara TV plat merah maupun Swasta nasional.....trus pertanyaannya kemana pihak media berpihak, ketika kita mengatakan dihadapan dunia bahwa kita adalah negara agraris dan ingin mengembangkannya menjadi negeri yg penuh swasembada ...tapiternyata sangat sedikit acara TV dan Radio yang diperuntukan untuk "membantu" mendorong upaya pembangunan ekonomi pertanian dan agribisnis di Indonesia,...
kita semua udah pasti faham bahwa " BELAJAR DENGAN CARA MENDENGAR DAN MELIHAT LEBIH DISUKAI DARIPADA MEMBACA".... apa lg di kalangan petani yang berjumlah 39,96 juta orang pada 2013 atau setaradengan 35% angkatan kerja di Indonesia.
 

Kesinergisan antara upaya pemerintah dengan pihak swasta menjadi penting , munkin sederhana sahaja...pihak pemerintah tinggal "memohon" (baca ; mewajibkan) dialokasikan cuma 1 jam saja dari 24x7 jam siaran TV seminggunya untuk forum petani dan agribisnis....Sederhana? menjadi tidak tidak sederhana ketika tdk ada yg memperdulikannya.....

 — di BPP Binuang.

KEARIFAN LOKAL SUMBER INOVASI DALAM MEWARNAI TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI DI LAHAN RAWA LEBAK



KEARIFAN LOKAL DALAM BUDIDAYA PADI RAWA LEBAK


Lahan rawa lebak telah begitu lama diusahakan untuk pertanian
utamanya tanaman padi, dengan memanfaatkan kondisi menyurutnya air
rawa pada saat menjelang musim kemarau. Masyarakat petani di wilayah
rawa lebak Kalimantan Selatan kondisi air yang menyurut pada musim kemarau tersebut disebut sebagai ”merintak”. Sehingga bertaman padi pada
kondisi tersebut dikenal sebagai tanam padi rintak, dan sawahnya adalah
“sawah rintak”atau “sawah timur”karena bertiup angin timur. Sebaliknya
kondisi air rawa yang merambat naik pada musim hujan disebut sebagai
”menyurung” sehingga bertanam padi lahan lebak pada musim hujan disebut
sebagai padi ”Surung”, sedang sawahnya disebut “sawah surung” atau
“sawah barat” karena pada musim itu bertiup angin barat (Noorsjamsi dan
Hidayat.1970).
Dalam melaksanakan budidaya padi, masyarakat petani telah
memiliki kearifan lokal (local wisdom) yang telah dijalankan berpuluh tahun.
Kearifan tersebut diantaranya:
1. Memilih lahan subur, pada awalnya masyarakat petani memilih lahan
rawa yang dekat dengan sungai besar untuk bertanam padi, karena
wilayah tersebut selalu mendapat kiriman lumpur subur, yang ditandai
warna tanah hitam gembur, dan telah banyak ditumbuhi oleh jenis
tubuhan air, seperti Kiambang (Salvinia sp) Enceg gondok (Elchornia sp)
dan tanda-tanda khas lainnya. Dari hasil penelitian diketahui bahwa
kedua jenis tumbuhan air tersebut tumbuh baik pada pH di atas 4, dan
kurang baik pada pH kurang dari 4. Selain itu transportasi dari tempat
tinggal ke sawah pulang pergi lebih mudah, terutama untuk kegiatan
pengangkutan hasil. Oleh karena itu hampir semua wilayah lahan lebak
dangkal telah diusahakan untuk pertanian.
2. Memulai kegiatan bertanam, dalam melaksanakan budidaya padi rawa
lebak, petani akan memulai kerja di persawahan berdasarkan tandatanda
alam, diantaranya adalah jika diantara pepohohan (umumnya
mangga rawa atau rerawa) telah terlihat banyak bentangan sulur putih
serangga, dan pohon sejenis pohon dadap telah mulai berkembang,
adalah satu pertanda bahwa musim kemarau akan segera tiba. Sehingga
para petani akan segera mempersiapkan tempat persemaian, dan
persiapan lahan. Sebaliknya jika di sungai-sungai telah mulai kelihatan
perkembangan ikan Seluang (Rasbora agyrotaenia) satu jenis ikan kecilkecil
khas Kalimantan dan Sumatera, adalah sebagai pertanda bahwa
musim hujan akan segera tiba, sehingga persiapan pertanaman padi
sawah surung harus segera dimulai.
3. Sistem persemaian, masyarakat petani sudah paham betul dengan sifat
dan kondisi lahannya, sebagai hasil dari pengamatan dan pengalaman
yang sangat lama. Sehingga timbul kegiatan untuk mengatasi/
menyesuaikan keadaan. Masyarakat petani sudah tahu bahwa menanam
padi bila menunggu keringnya lahan akan terlambat dan berisiko gagal.
Oleh karena itu harus dilakukan percepatan persemaian. Karena
lahannya masih tergenang air, maka persemaian dilaksanakan dengan
dua sistem: (a) Sistem teradak, adalah sistem persemaian kering pada
tempat yang tidak terkena genagan air (teradak) menyemainya dikenal
sebagi “meneradak” dan persemaiannya adalah “teradakan” (b) Sistem
semai terapung atau apung, dilaksanakan di atas lahan yang tergenang air menggunakan rakit dan sebagai media tumbuh bibit maka pada rakit
diberi lumpur rawa. sistem ini dikenal sebagai “Palaian”. Sistem “palaian”
sebenarnya adalah sistem persemaian basah,karena media tumbuh
masih mendapat air dari rawa melalui sistim kapilaritas. Persemaian
apung di Kalimantan Selatan sudah mulai ditinggalkan dan diganti
dengan sistem persemaian kering-basah, tetapi di Sumatera Selatan
masih banyak dilakukan. Selain dua sistem persemaian tersebut di atas,
terdapat sistem persemaian yang dinilai juga merupakan kearifan lokal
yang sangat baik. Sistem tersebut adalah sistem “persemaian pindah”
yaitu bibit yang masih muda dipindahkan dari keadaan kering ke keadaan
basah. Dilakukan dengan cara memindahkan gerombolan bibit padi ke
tepi sawah 15 hari sebelum tanam, sistem ini banyak ditemukan di
wilayah lebak desa Babirik Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan.
Berdasar hasil penelitian dan setelah dilakukan sentuhan teknologi
berupa perbaikan jumlah benih/m2 menjadi 200g/m2 dan umur
pemindahan 10 hari, serta pemupukan, ternyata teknologi persemaian
tersebut dapat memacu pertumbuhan bibit lebih cepat dan sehat (Ar-Riza
dan Noor, 1992).
4. Penyiapan lahan untuk sawah rintak, kearifan lokal ini banyak
dilaksanakan di wilayah lebak Desa Binjai Pirua, Kecamatan Tapus, Hulu
Sungai Utara,. Petani di wilayah ini mempersiapkan sawah rintak dengan
cara membabat dan membersihkan rumput rawa pada saat air rawa
masih dalam, sehingga kawasan terbuka tersebut memberi peluang
berkembangnya tumbuhan air jenis Kiambang atau Kai Apu (Salvinia
mollesta) maupun Salvinia natan), tumbuhan air yang mempunyai dua
cara berkembang biak (stolon dan spora) akan tubuh dan berkembang
pesat menutup lahan. Kearifan lokal ini belum ada namanya, sehingga
penulis memberanikan menyebut sebagai sistem ”Tebas-Tumbuh” Pada
saat air rawa surut maka hamparan populasi Salvinia sp tersebut turun ke
permukaan tanah, dengan populasi yang rapat dan ketebalan bisa
mencapai 15-20 cm. Kemudian petani menanam bibit padi di atas
hamparan Salvinia tersebut, tanaman akan tumbuh bagus dan Salvinia
akan menjadi mulsa yang efektif mengendalikan laju penguapan air
tanah, pengendali gulma yang efektif serta sebagai sumber tambahan
nutrien yang lumintu.
Pada wilayah lain dalam mempersiapkan lahan mempunyai
”kearifan lokal” atau cara yang berbeda tapi nampaknya azas tujuannya
sama yaitu, memepermudah pembukaan lahan dan sekaligus
pemanfaatan gulma untuk memperbaiki lahan pertaniannya, yang dikenal
sebagai sistem ”tebas-kait”.
Yaitu cara membuka lahan untuk budidaya padi rintak dengan cara
rumput ditebas searah dengan sedikit mengikutkan perakarannya,
sehingga hasilnya merupakan lembaran karpet rumput yang selanjutnya
digulung seperti gulungan karpet dan diletakkan di atas pematang.
Setelah kegitan tanam selesai, rumput hasil ”tebas-kait” tersebut disebar kembali diatara barisan tanam, sebagai mulsa/pupu organik. Kegiatan ini
banyak dilakukan oleh petani lahan lebak di wilayah desa Tabat, yang
menurut penuturannya cara ini sudah dilaksanakan secara turun
temurun.
5. Populasi tanam, bertanam padi di lahan lebak yang telah sangat eksis
adalah menggunakan varietas unggul lokal, yaitu varietas yang sudah
beradaptasi sangat baik di lahan lebak, karena sudah dibudidayakan
sejak lama. Varietas ini umumnya berumur dalam, dan tinggi tanaman
umumnya 90cm-120 cm atau ada yang lebih. Tinggi tanaman demikian
karena disesuaikan dengan kondisi air, utamanya untuk pertanaman
musim hujan pada rawa dangkal. Varietas ini mempunyai jumlah anakan
maksimum yang tinggi 20-35 anakan/rumpun, dengan tipe kanopi yang
menyebar, sehingga tidak semua anakan berhasil membentuk malai
akibat tingginya respirasi sehingga net fotosintesa rendah. Untuk
mendapatkan hasil yang baik, masyarakat petani umumnya telah
memiliki pedoman untuk populasi per hektar, yang diterjemahkan dalam
jarak tanam yaitu yang dikenal sebagai sistem tanam ”sedepa empat”,
artinya dalam panjang sedepa yang eqivalen dengan 1,7 m ditanaman
bibit sebayak 4 rumpun, yang jika jaraknya segi empat sama sisi maka
populasi tanaman akan eqivalen dengan 55.363 rumpun /hektar.
Populasi ini telah dilaksanakan sangat lama dan turun temurun. Namun
dalam perkembangan pertanian di lahan lebak, populasi tersebut dinilai
kurang sehingga muncul program upaya khusus (UPSUS) sistem tanam
”sedapa empat” diubah menjadi sistem tanam ”sedepa lima”, atau
”sedepa tambah satu” dan yang terakhir diperkenalkan sistem tanam
”dua sembilan” yang berarti dalam dua depa ditanam 9 rumpun. Populasi
tanam tersebut memang jarang tetapi mempunyai nilai ilmiah karena
tunas anakan yang tinggi dan dan krop kanopinya yang menyebar,
sehingga ilmu tanaman ddalam aspek distribusi sinar matahari dan
bentuk tanaman sebenarnya telah dimiliki dan diterapkan oleh petani
lahan lebak sejak lama sekali. Hal tersebut kiranya tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa Indigenous knowledge, local wisdom tersebut telah
mengispirasi timbulnya ”sistem legowo” (lego dan dowo), ”habas” (hawa
bebas), dan lainnya yang telah berkembang selama ini.
PENUTUP
Lahan rawa lebak memiliki potensi dan prospek besar untuk di
manfaatkan sebagai areal produksi pertanian, khususnya padi dan
merupakan salah satu pilihan strategis bagi peningkatan produksi pangan
nasional dan dapat dijadikan sebagai lahan abadi untuk mempertahankan
produksi pangan nasional.
Petani lokal di lahan rawa lebak Negara, Kalimantan Selatan, sejak
lama dan sudah lebih dari ratusan tahun memanfaatkan lahan rawa untuk bercocok tanam padi, palawija dan berbagai jenis tanaman hortikultura. Padi
merupakan tanam utama dan dapat di kembangkan hampir di semua jenis
lahan rawa lebak dari lahan lebak rawa dangkal sampai ke lahan rawa lebak
dalam. Dengan memahami kondisi lingkungannya dan belajar dari
pengalaman, petani telah berhasil mengembangkan lahan rawa lebak
menjadi daerah pertanian yang subur dan berproduktivitas tinggi, ramah
lingkungan dan kelestarian produksi tetap tinggi yang berlangsung hingga
sampai sekarang ini.
Tulisan ini di harapkan menjadi acuan dalam mengembangkan lahan
rawa lebak khususnya untuk tanaman padi secara lebih arif dengan
memperhatikan kearifan lokal petani dalam mengelola lahan rawa lebak.


KEARIFAN LOKAL SUMBER INOVASI DALAM MEWARNAI TEKNOLOGI
BUDIDAYA PADI DI LAHAN RAWA LEBAK
Isdijanto Ar-Riza, Nurul Fauziati,Hidayat D.Noor
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa


Download Panduan Budidaya Padi Lahan Rawa Lebak
http://www.litbang.deptan.go.id/download/one/6/

Jalan-Jalan ke BPP BINUANG via Citra Satelit ....

 Alamat  : -3.095379, 115.088979

Cyber Extension ala Japan ...

  


SISTIM PENYULUHAN DI JEPANG:- Konsep, Peran dan Perkembangan Penyuluhan Pertanian dan Pedesaan-
 ...
Perkembangan Penyuluhan Pertanian
Sejak konsep dan kelembagaan penyuluhan pertanian secara formal dikenal dalam
sistim administrasi dan perundangan di Jepang mulai tahun 1948, organisasi dan aktivitas
penyuluhan pertanian dan pedesaan telah mengalami perubahan dan perkembangan
mendasarkan dan menyesuaikan pada perubahan lingkungan pertanian dan taraf
perkembangan petani dan masyarakat pedesaan.
Perubahan dan perkembangan penyuluhan pertanian di Jepang oleh Sugino (2003)
dapat dipilah dalam tiga periode yaitu: (1) periode akhir 1940 sampai dengan awal 1960, (2)
periode 1960 sampai dengan awal 1980 dan (3) periode sejak pertengahan 1980. Perubahan
dan perkembangan penyuluhan pertanian pada masing-masing periode tersebut secara
ringkas diuraikan pada bagian berikut.
Periode akhir 1940 sampai dengan awal 1960, penyuluhan pertanian difokuskan
sebagai upaya untuk meningkatkan produksi komoditas pertanian utama serta mengenalkan
komoditas baru seperti palawija dan budidaya peternakan. Unit kegiatan penyuluhan relatif
kecil yaitu desa (village basis) dimana kegiatan penyuluhan di seluruh Jepang dilayani oleh
1.632 unit pusat penyuluhan (1955).
Periode 1960 sampai dengan awal 1980, pada periode ini ditandai dengan
peningkatan rata-rata umur petani namun jumlah rumah tangga petani dan core farmers
mengalami penurunan yang disebabkan proses industrialisasi. Produksi komoditas utama
pertanian mengalami surplus. Tema utama penyuluhan pertanian pada periode ini adalah
rekonstruksi pertanian daerah, meningkatkan jumlah core farmer dan menurunkan biaya
produksi. Unit penyuluhan pertanian menjadi lebih besar yaitu propinsi (perfectural basis).
Jumlah pusat penyuluhan mengalami penurunan menjadi 600 unit.
Periode sejak pertengahan 1980, pada periode ini ditandai dengan permasalahan
pertanian yang semakin rumit. Isu yang dianggap sangat penting adalah international
competitiveness. Gejala yang semakin nampak adalah jumlah core farmers yang berusia tua
semakin meningkat dan jumlah lahan pertanian yang terlantar semakin meningkat. Isu
tentang kerusakan daerah pegunungan dan dataran tinggi serta pertanian berkelanjutan
menjadi tema penting bagi kebijakan pertanian Jepang. Penyuluhan dan petugas
penyuluhan pertanian mendapat tantangan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pada
sisi yang lain, reformasi administrasi dan desentralisasi kewenangan telah menyebabkan
jumlah pusat penyuluhan pertanian dan petugas penyuluhan mengalami penurunan.

Secara struktural-organisatoris, keberadaan lingkup peran lembaga penyuluhan di
tingkat nasional juga mengalami perubahan. Pada tahun 1990-an, kegiatan penyuluhan di
Departemen Pertanian dikelola oleh Agricultural Production Bureau yang secara langsung
ditangani oleh Extension and Education Division serta Divisi Home-life Improvement. Pada
saat ini, (kondisi awal tahun 2008), kebijakan dan kegiatan penyuluhan di tingkat nasional
ditangani oleh Division of Agricultural Extension Service, Women and Youth Affirs yang ada
dibawah koordinasi Management Improvement Bureau.
Permasalahan kontemporer serta kebijakan baru terkait dengan penyuluhan
pertanian di Jepang antara lain terkait dengan reformasi organisasi, peningkatan kualitas
sumberdaya penyuluhan dan peningkatan teknik dan metoda penyuluhan serta perimbangan
pembiayaan penyuluhan.
Cyber Extension dan Propsek Penyuluhan
Seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya petani dan pelaku pertanian serta
kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi serta pertimbangan efektivitas dan efisiensi
penyebarluasan informasi, salah satu solusi yang ditawarkan dalam rangka mengatasi
persoalan transfer teknologi dan pengetahuan pertanian di Jepang adalah pemanfaatan
information and communication technologies (ICTs). Sharma (2006) memberikan istilah
tentang pemanfaatan ICTs untuk penyuluhan pertanian dengan sebutan “cyber extension”.
Cyber extension merupakan penggunaan jaringan on-line, computer dan digital
interactive multimedia untuk memfasilitasi diseminasi teknologi pertanian. Model ini
dipandang sangat strategis karena mampu meningkatkan akses informasi bagi petani,
petugas penyuluh, peneliti baik di lembaga penelitian maupun di universitas serta para
manajer penyuluhan.

Salah satu model cyber extension yang telah dikembangkan di Jepang dengan
cukup pesat adalah computer network system yang dikenal dengan Extension Information
Network (EI-net). Sistim EI-net merupakan sistim yang terintegrasi yang menggabungkan
berbagai stakeholders seperti pemerintah pusat, propinsi, lembaga penelitian, perusahaaan
pertanian, pasar, penyuluh dan petani.
Yamada (1998) menginformasikan bahwa pemanfaatan computer network system
skala nasional dalam bidang penyuluhan pertanian telah dilakukan sejak tahun 1988 dengan
permulaan pembangunan dan pemanfaatan 69 terminal di seluruh Jepang. Jaringan tersebut
utamanya mencakup lembar buletin pertanian dan sistim email yang difokuskan untuk
mempercepat laju pertukaran informasi antar pusat penyuluhan dan petugas penyuluh
pertanian. Jumlah terminal terus meningkat dan sistim jaringan juga berkembangan dari
tahun ke tahun.

Pada sistim EI-net, dikembangkan sistim database dan sistim komunikasi melalui
e-mail. Database tersebut antara lain mencakup berita pertanian, informasi pasar serta
informasi cuaca. Pemerintah pusat menyediadakan data statistik hasil penelitian, dll,
Perusahaan swasta pertanian menyediakan informasi terkait dengan pupuk, pestisida, mesin
dan peralatan pertanian, dll, Pusat penyuluhan pertanian menyediakan database yang
mereka miliki untuk ditawarkan kepada penyuluh pertanian. Database tersebut
dimanfaatkan secara on-line dan dapat diakses berulang-ulang sehingga memungkinkan
membantu menyelesaikan persoalan individu yang mengakses. Data yang telah
terakumulasi selanjutnya disimpan dalam host computer. EI-net juga menawarkan fasilitas
fax yang memungkinkan pengiriman dan pemanfaatan dokumen yang berupa image.
Pengguna EI-net tidak hanya staf penyuluhan seperti penyuluh pertanian dan penyuluh
home life serta subject-matter specialists, namun dapat juga diakses oleh petani/individu
pengguna. Secara skematis.

Pengembangan sistim EI-net telah memberi manfaat yang cukup berarti baik bagi
petugas penyuluh maupun petani dan penggunanya. Secara umum, keuntungan dan manfaat
implementasi EI-net bagi petugas penyuluhan pertanian antara lain: (1) pengumpulan
informasi yang cepat, (2) mengetahui kondisi terkini pertanian, (3) sarana komunikasi dan
pertukaran informasi sesama penyuluh di seluruh Jepang, (4) dapat memilah dan memilih
infomasi yang diperlukan dari database yang ada, (5) mengumpulkan data teknis pertanian
yang selalu terbaharui, (6) dapat menggnakan free software, (7) mengumpulkan data cuaca,
(8) dapat menyebarluaskan informasi kepada banyak petani atau pengguna secara serentak,
(9) sebagai sarana yang efektif untuk mengumpulkan informasi skala lokal. Sedangkan bagi
petani atau pengguna, manfaat penggunaan EI-net antara lain: (1) dapat menerima
bimbingan taknik pengelolaan usahatani, (2) dapat memanfaatkan free software, (3) dapat
mengumpulkan dan memanfaatkan data cuaca dan (4) dapat berkomunikasi dengan petani
serta pengguna dan stakeholders lain secara cepat.
Sistem EI-net, selain dikembangkan dan dikelola dalam skala nasional namun juga
dikembangkan oleh masing-masing daerah/perfecture. Masing-masing perfecture memiliki
network system untuk penyuluhan pertanian sesuai dengan kebutuhan skala lokal. Sebagai
contoh adalah sistim diagnosis pertumbuhan padi yang telah dikembangkan oleh Fukui
Perfecture yang disajikan pada Gambar 5.
 

Pemanfaatan EI-net untuk aktivitas penyuluhan belum dapat dilakukan secara
optimal. Beberapa kendala dan persoalan yang sedang dan akan dihadapi antara lain: (1)
keterbatasan penguasaan teknik akses dan pengetahuan jaringan komputer baik bagi petani
dan pengguna maupun patugas penyuluhan. Pelatihan yang efektif nampaknya diperlukan
untuk mengatasi hal ini, (2) partsipasi aktif dari semua stakeholders dan pengelola EI-net
sangat penting, diperlukan upaya terus menerus untuk mengaktifkan pengelola EI-net, (3)
peningkatan sistim jaringan perlu dilakukan terus menerus, meskipun sudah ada
peningkatan yang signifikan dari 300 bps pada awalnya sampai 14400 bps, namun
kebutuhan akan high transmission rate juga meningkat sebagai contoh image untuk plant
disease dan plant growth membutuhkan akurasi yang lebih tinggi, (4), masih banyak
informasi yang belum bisa diakses oleh publik, (5) lingkungan dan perkembangan pertanian
berubah sangat cepat sehingga teknologi EI-net juga harus mampu menyesuaikan dengan
perubahan tersebut.

Sebagimana dilaporkan oleh Fukuda (2005), pemanfaatan teknologi penyuluhan
melalui EI-net dikalangan petani maupun pengguna yang lain terus mengalami peningkatan.Pada tahun 2005 tercatat sekitar 4.000 petani dari seluruh Jepang terlibat dan memanfaatkan
informasi melalui EI-net.Selain memanfaatkan EI-net, sistim layanan penyuluhan di Jepang juga
memanfaatkan berbagai teknologi informasi dan komunikasi modern serta masih memberi
ruang pada face to face approach. Menururt Shio (1997), secara substansial new media
communication era bagi masyarakat pedesaan Jepang dimulai sejak tahun 1986. Pemerintah
meluncurkan kebijakan sistim informasi terpadu untuk masyarakat pedesaan yang dikenal
dengan “Integrated Information Policy in Rural Area”. Tujuan dari kebijakan ini adalah
untuk membangun masyarakat yang dapat mengakses dan memanfaatkan informasi secara
optimal dan untuk mendorong pertukaran informasi dan komunikasi antara masyarakat
pedesaan dan masyarakat kota melalui jaringan komunikasi dan media baru. Kebijakan
tersebut ditandai dengan dukungan dan pengenalan multiple information system bagi
masyarakat pedesaan untuk mendukung usaha dan bisnis pertanian serta perbaikan ekonomi
rumah tangga masyarakat pedesaan.
 
Multiple communication system yang baru yang telah dikenalkan dan
dipromosikan di pedesaan Jepang antara lain: telephone, wireless information system, off-talk communication, FAX, CATV, personal computer communication, video tex, satellite
communication system, internet (EI-net), television telephone system.
Selain isu pemanaatan multiple media, kebijakan dan aktivitas penyuluhan juga
menghadapi berbagai isu yang terus berkembang. Saat ini bidang pertanian sedang
mengalami perubahan sangat cepat, hal ini juga terjadi dengan kondisi pertanian di Jepang.
Iwamoto (2008) memberikan ide bahwa arah baru yang mestinya dimainkan oleh
penyuluhan pertanian di Jepang paling tidak mencakup dua hal yaitu: (1) layanan
penyuluhan harus diarahkan pada aktivitas untuk menyediakan inovasi pertanian yang
semakin advance dan (2) petugas penyuluhan pertanian harus mampu memainkan peran
dalam mengkoordinasi unsur pertanian di daerah agar dapat menjalin kerjasama dengan
pihak-pihak atau otoritas terkait. Persoalan atau isu yang perlu diangkat dalam penyuluhan
pertanian dan pedesaan antara lain: (1) mendorong pelestarian lingkungan dan friendly
farming, (2) menekankan isu food safety, (3) mendukung berbagai tipe petani untuk terus
meningkatkan kemampuan teknis dan (4) mendorong dan melakukan aktivitas untuk
mendidik generasi muda, anak sekolah dan warga masyarakat agar memiliki pemahaman
yang lebih baik tentang isu dan peran pangan serta pertanian.
Satu hal vital terkait dengan penyuluhan yang juga perlu mendapatkan fokus
perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah dalam memberikan layanan
penyuluhan adalah menumbuhkan dan membangun kolaborasi antara lembaga pemerintah
(penyuluhan dan penelitian), pihak swasta dan universitas. Kolaborasi yang terpadu antar
lembaga-lembaga tersebut di Jepang selama ini belum dilakukan dengan optimal sehingga
masih terbuka luas peluang untuk memperoleh manfaat dari kemajuan aktivitas tersebut.
 
Penutup
Beberapa catatan akhir dari gambaran umum tentang sistim layanan penyuluhan
pertanian dan pedesaan di Jepang antara lain: (1) peran pertanian dan penyuluhan pertanian
masih sangat strategis meskipun bagi negara maju/industri apalagi bagi negara berkembang
sehingga pertanian dan sistim penyuluhannya perlu mendapat perhatian dan dukungan yang
signifikan, (2) partnership dan sinkronisasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam
penyelenggaraan penyuluhan pertanian sangat penting baik dalam perumusan kebijakan,
staf personil maupun pendanaan, (3) kolaborasi antara lembaga peyuluhan, lembaga
penelitian, swasta, universitas dan stakeholders lain menentukan tingkat keberhasilan
penyuluhan, (4) kualifikasi penyuluh baik spesialis maupun petugas lapangan berperan penting dalam merancang dan memperlancar proses transfer inovasi serta peningkatan home
life bagi petani dan masyarakat pedesaan, (5) isu pembangunan pertanian sangat sulit
dipisahkan dari isu peningkatan kualitas hidup petani dan masyarakat pedesaan, hal ini
berimplikasi dalam penyelenggaraan penyuluhan perlu mempertimbangkan model
integrated team approach yang dapat bekerja bersama secara simultan, dan (6) agar dapat
memberikan manfaat yang optimal bagi pengguna, kebijakan dan aktivitas penyuluhan
pertanian dan pedesaan harus terus menerus menyesuaikan dengan perubahan global yang
terus berlangsung.

Oleh :
Subejo
Ph.D Student pada Dept. of Agricultural and Resource Economics, The University of Tokyo Japan
dan Staf Pengajar PS. PKP Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta,
e-mail: subejo@lycos.com; http://subejo.staff.ugm.ac.id/


Thailand Sepuluh Tahun Lalu...

 

 

Produk Unggulan Thailand: Safety Standard From Farm To Table


•April 14, 2008 • Leave a Comment
Sejak tanggal 5 September 2000 telah diadakan kampanye gerakan nasional yang mempromosikan dengan gencar bahwa Thailand telah memutuskan untuk kembali ke khitah asli sebagai negara agro industri. Arah semula yang berupaya menjadi negara industri manufaktur dianggap gagal karena tetap tidak beranjak dari status ketergantungan impor bahan baku industri bahkan jatuh kedalam krisis yang berkepanjangan. Produk pertanian seperti beras, karet, cassava, buah, sayuran, produk perikanan dan bahan pangan olahan, kembali ditetapkan sebagai produk unggulan nasional. Produk industri seperti automotive, elektronika, produk tekstil, komputer, kimia, dan sejenisnya, tidak lagi diprioritaskan dan dibiarkan sesuai mekanisme pasar. Kegiatan ini merupakan evaluasi terakhir dari kampanye “Safety standard from Farm to Table”.
Kampanye ini merupakan strategi membangun untaian rantai produk pangan bermutu tinggi yang merupakan rangkaian kegiatan dari proses produksi produk pertanian, panen, distribusi pasca panen, proses manufakturing makanan olahan, makanan siap saji, restaurant dan katering.
Target untaian rantai pangan (food chain network) saat ini tinggal satu langkah terakhir mengingat keunggulan yang sudah diraih Thailand saat ini meliputi dari titik budidaya tani (farm) sampai titik pedagang pengecer (retailer) mancanegara. Satu langkah terakhir yang ingin dikuasainya, bisnis dari pengecer ke meja makan. Thailand saat ini sudah unggul dalam produk pertanian dengan status eksportir atau produsen terbesar dunia untuk beras, gula, karet, bunga potong, bibit tanaman, palmoil, tapioka, daging unggas, buah-buahan, makanan kaleng, dan sejenisnya. Thailand juga memiliki popularitas dan volume usaha substansial untuk Thai-restaurant-chain dan Thai-aircatering (anak perusahaan Thai Airways) yang melayani 100 ribu penumpang pesawat terbang mancanegara setiap harinya. Sasaran yang dituju adalah agar meja makan setiap rumah tangga penduduk dunia memiliki kandungan Thai product dengan standard mutu yang tinggi.
Target pasar utama yang dituju terlebih dahulu adalah pasar Asia dengan penduduk 3 milyar orang dengan pendapatan per kapita yang semakin meningkat dan selera Asia yang serupa dengan Thailand, sehingga tidak perlu repot-repot melakukan modifikasi.
Pelajaran menarik dari kegiatan kampanye safety standard from Farm to Table ini diantaranya meliputi sejumlah program berikut. Program standarisasi yang terintegrasi, komprehensif yang merangkai produk dari yang paling hulu sampai produk paling hilir secara berkesinambungan dan terkoordinasi sampai detail sehingga membentuk “total food chain network”.
Pelaksanaan program yang tertata, sistematis dan tepat seperti yang direncanakan. Realisasi backward linkage dan forward linkage yang rumit dan kompleks telah berhasil dimaterialisasikan. Pemilihan program yang tepat guna (from farm to table), dengan sasaran terfokus (pasar Asia), dan sumberdaya unggulan yang dimiliki negeri ini (produk pertanian). Koordinasi antar lembaga pemerintah, antar swasta dan antara pemerintah dengan swasta dari hulu ke hilir.
Saat ini produk beras, cassava, dan perikanan Thailand dikenal dengan mutu unggul yang mampu bersaing dengan keunggulan standard kesegaran Jepang yang sudah melampaui standard negara-negara barat. Thailand akan menjaga reputasi ini dan sedang berupaya agar mutu unggulan ini dapat dipertahankan tidak saja sampai di pasar mancanegara tetapi sampai di meja makan penduduk global, dalam bentuk nasi, penganan, makanan siap saji dan siap makan dan juga di meja makan restauran mancanegara maupun meja makan di pesawat komersial mancanegara. Karena keunggulan utama agro bisnis dan agro industry Thailand diantaranya adalah tiga produk ini maka industry makanan olahan yang dijadikan sasaran meliputi produk makanan yang berbasis tiga produk ini dan praktis tanpa adanya saingan langsung yang cukup signifikan.

Perekat Bangsa Thailand

Salah satu keberhasilan sistem politik yang mempersatukan bangsa Thailand adalah membangun perekat diantara 62 juta penduduk bangsa ini, diantaranya adalah keseragaman bahasa, agama Budha, pola hidup, dan fungsi raja. Walaupun terdapat konflik di wilayah selatan, namun praktis tidak ada potensi lain yang dapat memecah persatuan diantara rakyat Thailand.
Bahasa Thailand dengan aksara cacingnya memiliki akar sansekerta dengan pengaruh China dan perkembangan bahasa lokal yang berevolusi sepanjang sejarah Thailand. Semua penduduk menggunakan bahasa yang sama dan aksara sama sehingga mampu menjadi suatu ciri khusus dan jatidiri yang mempersatu bangsa Thailand. Laos merupakan negara tetangga satu-satunya yang juga memiliki bahasa yang nyaris sama dengan Thailand.
Agama Budha yang dianut oleh sebagian besar rakyat Thailand dengan segala tuntunan hidup maupun filosofinya dihayati benar oleh penduduk dan dilaksanakan di dalam kegiatan hidup sehari-hari termasuk dalam sendi-sendi ketatanegaraan sehingga menjadi tuntunan dan perekat penting bagi bangsa dan negara ini. Tiga propinsi paling selatan yang banyak penganut Islam menjadi kaum marjinal yang merasa terpinggirkan sehingga menimbulkan friksi politik sebagai satu-satunya masalah yang potensial memecah persatuan Thailand.
Raja Bumipol Aduljadej memerintah secara bijaksana selama puluhan tahun dan sangat dicintai oleh rakyatnya bahkan dipuja bagai setengah dewa. Belum pernah sepanjang sejarah pemerintahannya terjadi oposisi terhadap kekuasaannya. Perdana Menteri boleh berganti setiap tahun, baik karena kudeta maupun tidak, namun begitu diterima dan direstui oleh raja, maka segala gejolak politik langsung teredam. Fungsi raja inilah yang membuat negeri ini jauh dari gejolak politik. Raja selalu menjadi stabilizing factor dan tidak pernah terjadi kevakuman karena keberadaannya.
Dengan perekat bahasa, agama dan raja, bangsa Thailand mampu mengatasi segala persoalan negara karena homogenitas telah mempermudah rantai komando, menyederhanakan persatuan dan kesatuan. Dengan kondisi seperti ini segala masalah seperti yang terjadi belum lama ini yaitu krisis moneter 1997 mampu dengan cepat dapat diatasi dan tidak terjadi krisis multidemensi seperti di Indonesia. Faktor lain yang menjadi pendorong penting bagi kesatuan dan persatuan bangsa dan stabilitas nasional adalah kesadaran pihak militer untuk kembali ke barak dan tidak ikut campur lagi dengan urusan politik praktis seperti sebelum dasawarsa 1990an dimana dalam setahun bisa terjadi beberapa kali kudeta. Dengan faktor perekat tersebut stabilitas politik dapat dipertahankan dan target-target ekonomi dapat dicapai sehingga pertumbuhan kesejahteraan penduduk dapat terus di pertahankan.

Keunggulan Faktor Input Pertanian

Keunggulan produk pertanian Thailand bukan hasil dari upaya semalam seperti hikayat Bandung Bondowoso atau Sangkuriang, tetapi hasil perjuangan yang menyeluruh dari para tokoh dan rakyat Thailand selama ratusan tahun. Banyak faktor yang mempengaruhi cerita sukses Thailand, namun bila dikaji dari sisi input sejumlah faktor berikut memberikan kontribusi yang signifikan.

Sistem pemilikan tanah pemicu keunggulan Thailand

Negeri gajah putih ini memiliki tanah hanya sebesar pulau Sumatera, itupun tidak semuanya subur. Lahan pertanian yang menghasilkan padi mutu tinggi dengan tingkat kesuburan memadai hanya wilayah disekitar ibukota Bangkok. Lahan ini juga dialiri oleh banyak kanal dan irigasi teknis. Lahan sisanya hanya tanah berkapur dan bercadas yang kurang subur, namun mampu menghasilkan karet dan cassava terbesar di dunia. Bangsa yang ulet ditempa kerasnya alam ini justru sukses melakukan budidaya pertanian yang pada gilirannya meneruskan cerita sukses kepada sektor industri yang mengolah hasil pertanian.
Lahan pertanian yang terbatas ini dikelola dengan baik oleh sistem kepemilikan tanah dan pemanfaatan yang efisien. Hampir seluruh lahan pertanian Thailand berukuran besar sebagai unit produksi yang memenuhi skala ekonomi. Apabila dilihat dari dalam pesawat udara yang akan mendarat akan terlihat hamparan lahan pertanian yang luas dengan batas-batas kasat mata dan praktis rata tanpa perbukitan. Sistem kepemilikan tanah, lahan yang rata dan hak waris menciptakan lahan luas sehingga efisien dalam mekanisasi pertanian yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas lahan. Hak waris dilaksanakan dengan pembagian saham dan dikelola oleh salah satu anggota keluarga dengan digaji dan labanya dibagikan sebagai dividen para ahli waris. Bandingkan dengan Indonesia yang lahannya rata-rata 0,2 hektar dengan petak pematang sempit dan terasering seperti anak tangga. Lahan dengan geografi seperti Indonesia sedap dipandang mata namun hampir tidak mungkin dikelola dengan mekanisasi pertanian yang efisien. Lahan luas dan rata seperti di Thailand memungkinkan traktor pengolah tanah, mesin penyemai bibit, mesin penebar pupuk dan mesin pemetik hasil tanaman, dapat bekerja dengan efisien.

Air sebagai sumber kehidupan

Salah satu kepercayaan agama Budha yang banyak diterapkan rakyat Thailand adalah bahwa air merupakan sumber kehidupan manusia. Apabila manusia menginginkan hidup yang sehat dan sejahtera maka peliharalah sumber air. Pemahaman ini dihayati benar dan dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga ada anggapan bahwa apabila ada sampah atau kotoran lain di sungai, danau atau laut, maka akan dituding sebagai perbuatan para turis yang memang banyak di Thailand, suatu indikator sukses lainnya di bidang pariwisata. Air benar-benar merasuki setiap penduduk Thailand, tiada bangunan tanpa hiasan air mancur, kolam ikan atau air hiasan lainnya, tiada rumah tanpa suara kricik-kricik air. Hari raya tahun baru Thailand, Songkran, dimeriahkan setiap tahun oleh meriahnya pesta air berupa perang siram siraman air di jalan yang sangat digemari para turis. Setahun sekali dirayakan pula ritual penebusan dosa kepada sumber air dengan melabuh lampion di malam hari di sungai, laut, danau. Masyarakat tetap merasa bersalah telah mengotori sumber air secara tidak sengaja, meskipun telah berupaya keras menjaganya, sehingga merasa perlu untuk menebus dosa.
Dengan kepercayaan seperti mendewakan air dimanapun komunitas Thailand berada, tidak mengherankan apabila ketersediaan air untuk keperluan pertanian hampir tanpa masalah kekeringan, kebanjiran, polusi, intrusi air laut, tercemar bahan racun dan sejenisnya. Apabila hal itupun terjadi maka yang dipersalahkan adalah turis, perusahaan asing, bencana alam El Nino dan sejenisnya. Sumber air yang tidak ada habisnya datang dari dua sungai besar, Mekong di utara dan Chaopraya di selatan, dialirkan ke sistem kanal dan irigasi di sekeliling lahan pertanian. Kota Bangkok yang pada sejumlah tempat lebih rendah dari permukaan laut dilindungi dari banjir oleh 200 sistem pompa raksasa dan banjir kanal sekaligus bersinergi dengan irigasi lahan padi sehingga meningkatkan efisiensi pemanfaatan air yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas lahan pertanian.

Semua bibit unggul

Teknologi budidaya tanaman dikuasai bangsa ini sejak lama. Tidak kurang dari program raja, program pemerintah, program universitas, dan program swasta melakukan sinergi maupun berusaha sendiri-sendiri memproduksi bibit unggul. Agro bisnis dan agro industri telah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan menciptakan insentif bagi para pelaku produsen bibit unggul sehingga berlomba-lomba melakukan riset untuk memproduksi bibit yang lebih produktif dan efisien. Sektor pertanianpun mampu menyerap bibit unggul yang dihasilkan dan menciptakan sinergi yang saling menguntungkan bersama dengan para pelaku agro bisnis lainnya.
Kebijakan budidaya tanaman pertanian Thailand pada umumnya memfokuskan hanya kepada sedikit jenis spesies bibit unggul. Apabila sudah didapat bibit unggul yang diinginkan, maka spesies lain tidak diperkenankan untuk ditanam sehingga hampir selalu terjadi monokultur tanaman jenis tertentu. Misalnya padi dibatasi hanya 3 spesies, durian 2 spesies, asem jawa manis hanya 1 spesies, sedangkan spesies lain yang tidak diharapkan tidak boleh ditanam dan hanya boleh hidup di kebun-kebun percobaan atau menjadi koleksi lembaga riset. Pola monokultur ini memberikan keseragaman output, memudahkan penanganan pasca panen, meningkatkan daya saing ekspor dan mengendalikan penyakit tanaman.

Pasar jasa pertanian yang saling menghidupi

Kalau kita bepergian dengan mobil kearah pinggiran kota Bangkok, segera saja akan terlihat banyaknya mesin-mesin olah pertanian yang di parkir menanti penyewa di perusahaan rental peralatan mekanisasi pertanian. Perusahaan rental ini banyak berlokasi di pinggir jalan-jalan utama di batas kota Bangkok dengan daerah pedesaan. Pemandangan ini akan lebih ramai lagi apabila masa-masa sibuk seperti musim tanam, musim olah tanah, atau musim panen sudah lewat.
Lahan pertanian luas setiap unitnya dan geografis tanah Thailand yang rata memerlukan berbagai jenis peralatan mekanisasi pertanian, dari traktor pengolah tanah, bulldozer, backhoe, pembuat parit, pompa irigasi, penebar pupuk dan banyak lainnya. Produsen mesin pertanian asal Amerika, Eropa, Jepang terwakili menyemarakkan pasar rental Thailand. Struktur harga sektor pertanian dirasa pas untuk para pelaku dan mampu saling menghidupi. Petani cukup hidup layak dengan harga jual produk pertanian di pasar lokal dan mampu membeli barang-barang input seperti pupuk, obat-obatan, air, bibit unggul, sewa mesin pertanian dan lainnya. Demikian juga para pemilik tanah maupun produk-produk input dapat hidup layak pula. Pasar rental menghadapi iklim kondusif berupa tingkat permintaan yang tinggi dari para petani untuk menyewa peralatan. Indikator penting adalah tetap kompetitifnya harga jual ekspor untuk seluruh produk pertanian Thailand, yang berarti masih ada margin cukup bagi para eksportir yang membeli produk pertanian dari para petani. Secara ringkas berarti ekonomi Thailand berlangsung secara efisien dan dalam koridor mekanisme pasar.

Pupuk NPK lokal dengan bahan impor

Suatu ironi pada negeri gajah putih ini, dimana pada satu sisi merupakan negeri pertanian unggulan namun pada sisi lain sangat tergantung pada pupuk impor terutama urea dan ammonium nitrat. Pupuk impor kemudian diblending dengan bahan pupuk lokal Kalium menjadi pupuk NPK untuk kemudian dimonopoli oleh BUMN dan didistribusikan secara nasional. Dengan cara ini Thailand mendapatkan bahan baku pupuk secara efisien (tender internasional) dan mengamankan pupuk nasional dari sisi harga, mutu maupun jumlahnya. Sejauh ini kebijakan pupuk Thailand cukup efektif diserap petani, digunakan sesuai dengan target lahan dan digunakan sebagai alat ukur atau memproyeksikan hasil panen.
Pupuk NPK tidak diperkenankan untuk diekspor maupun diimpor untuk menjaga kualitas yang seragam dan mengamankan ketersediaannya pada tingkat petani terutama pada setiap musim tanam. Berbeda dengan dunia pupuk kita yang dimana pupuk bersubsidi tidak sampai ke petani tanaman pangan tapi ke perkebunan kelapa sawit atau diekspor sehingga petani menanam tanpa pupuk atau kurang dari jumlah standard sehingga proyeksi output padi dan tanaman pangan lainnya menjadi bias ditambah carut marut beras impor baik legal maupun selundupan.
Etos Kerja, lembur dengan amfitamin:
Petani dan pekerja Thailand dikenal memiliki etos kerja yang tangguh mampu bekerja lebih lama dengan produktivitas sama dan tekun dalam melakukan pekerjaan. Bahkan untuk mengejar pendapatan yang lebih banyak, mereka terkadang memaksakan diri dengan mengkonsumsi amfitamin yang dampaknya membuat orang tahan kantuk dan lupa kelelahan. Apabila didunia lain orang mengkonsumsi untuk tripping semalam suntuk di diskotik dengan house music yang monoton sampai pagi, di Thailand orang menggunakannya untuk bekerja lembur. Hal yang ingin diungkapkan disini bukan perilaku narkoba tetapi lebih karena perilaku kerja keras petani maupun buruh industri, nelayan, pekerja kasar proyek infrastruktur. Dampak negatif banyak terjadi selepas kerja pada saat mereka dalam perjalanan pulang kerumah. Kelelahan yang diulur dengan obat-obatan mencapai puncak kumulatif ketika mereka di jalan sehingga kurang peka terhadap bahaya lalulintas.

Keunggulan Keterkaitan Hulu-Hilir Industri Agro

Sukses Thailand di sektor pertanian masih diperpanjang dengan kondisi harmonis antara pasar pertanian dan pasar industri. Kedua sektor dapat saling menghidupi menciptakan sinergi sehingga keduanya mampu mencapai tingkat kinerja bahkan daya saing yang memadai baik di pasar dalam negeri maupun internasional. Faktor utama yang memberikan kontribusi penting diantaranya aspek distribusi dengan keberadaan pasar agro bisnis yang meliputi mekanisme yang saling menunjang diantara pasar induk, pasar regional, pasar kontrak, pasar lelang, yang bekerja sesuai mekanisme pasar.
Pasar induk Thailand didisain untuk memberikan keleluasaan sepenuhnya bagi para pelaku sektor agro bisnis terutama petani produsen buah, sayur, ternak, ikan dan udang budidaya. Di tempat yang luas ini petani mempunyai banyak pilihan, apakah mau menjual sendiri hasil kebunnya, maka tersedia tempat yang diinginkan. Umumnya petani jenis ini membawa truk atau pickupnya dan menjajakan barang dagangannya ditempat parkir yang disediakan. Apabila petani ingin menjual secara berkelompok, maka tersedia tempat untuk kelompok tani. Apabila petani ingin menjual kepada eksportir juga tersedia tempat bernegosiasi. Pilihan petani tentunya memiliki kondisi yang berbeda-beda tergantung pilihan yang paling menarik bagi setiap individu petani yang bersangkutan, yang menyangkut kuantitas, kualitas, delivery dan persyaratan lain.
Pasar regional sesungguhnya juga pasar induk namun pada tingkat propinsi atau mencakup wilayah beberapa propinsi. Perbedaan pasar induk tingkat nasional dibandingkan tingkat propinsi dibedakan oleh lokasi, produk yang diperdagangkan dan volume transaksi pada pasar tersebut. Pasar regional juga tidak buka setiap hari seperti pasar induk.
Pasar lelang merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli produk tertentu dan hari tertentu selama periode panen tertentu. Umumnya hanya berupa tanah lapang luas atau pelataran semen luas untuk tempat parkir para pembeli dan penjual yang umumnya datang dengan truk. Kantor pasar lelang juga hanya buka pada saat lelang berlangsung. Pasar ini juga memiliki jadwal tetap kapan buka dalam periode setahun dan umumnya mencatat harga transaksi dan volume transaksi untuk dilaporkan ke tingkat pusat.
Pasar kontrak merupakan pasar virtual karena tidak memiliki tempat tertentu, namun para petani dapat melakukan kontrak penjualan dengan industri pengolah pertanian. Misalnya petani cabe bisa melakukan kontrak dengan perusahaan produsen sambel botolan, atau pabrik mi instant dan pabrik lainnya yang membutuhkan cabe dalam jumlah banyak. Untuk menjaga agar perusahaan tidak bertindak sepihak sehingga merugikan petani yang lemah posisi tawarnya, maka pemerintah mewajibkan agar kontrak tersebut di tandatangani tiga pihak yaitu penjual pembeli dan seorang saksi pejabat pemerintah. Apabila salah satu pihak penjual atau pembeli merasa dirugikan, maka pemerintah dapat menjadi penengah.
Pasar berjangka juga disediakan pemerintah sebagai sarana penjual, pembeli, dan pedagang untuk mengamankan kepentingannya secara legal. Seperti juga terdapat di Indonesia, pasar berjangka merupakan sarana yang disediakan pemerintah untuk melakukan transaksi bagi para pihak dengan penyerahan barang dikemudian hari namun disebutkan tanggal yang jelas sesuai dengan kesepakatan, kualitas standard dan harga yang mengacu kepada pergerakan harga internasional. Dengan sarana ini para pihak terkait dapat melakukan lindung nilai (hedging) dari transaksinya dimasa depan terhadap risiko gejolak harga yang sukar dideteksi oleh instrumen pasar lainnya. Petani produk pertanian akan terlindungi dari jatuhnya harga jual yang sangat rendah akibat panen yang over supply dan pembeli juga akan terlindungi dari meroketnya harga akibat gagal panen atau gejolak lainnya. Dengan mekanisme ini pihak penjual dan pembeli menghadapi kepastian harga yang predictable dan wajar sehingga menciptakan pasar yang kondusif bagi para pelakunya.
Dengan adanya pasar berjangka, pasar kontrak, pasar lelang, pasar induk, pasar regional, maka suplly chain management nasional berlangsung secara efisien dan melindungi semua pelaku di pasar.

Pasca Panen, tidak membawa sampah ke kota

Satu lagi keunggulan sistem supply chain management nasional Thailand di sektor agro bisnis maupun industri agro adalah prinsip yang sangat sederhana namun sangat efektif dengan prinsip distribusi yang “tidak membawa sampah” dari lahan pertanian ke kota, sepanjang rantai distribusi, apalagi untuk keperluan ekspor. Jadi setiap pergerakan distribusi produk pertanian selalu hanya membawa produk yang lulus kualitas, keseragaman, kebersihan. Implementasi dari prinsip ini sederhana saja. Para pedagang yang akan membeli misalnya buah jeruk dari petani tertentu, akan menyediakan kemasan dari karton yang sudah lengkap dengan label dan informasi lain tentang isinya, termasuk sekat-sekat dari kotak karton tersebut yang secara otomatis merupakan ukuran buah jeruk yang dapat diterima oleh pedagang jeruk yang bersangkutan. Dengan adanya sekat untuk setiap butir jeruk, maka hanya jeruk yang memenuhi syarat kualitas, ukuran yang seragam dan kebersihan, yang boleh dimasukkan kedalam kotak karton tersebut. Jeruk lainnya ditolak oleh pedagang dan dipasarkan lokal oleh petani tersebut. Dengan cara ini distribusi berjalan sangat efisien, hanya jeruk yang bisa jadi duit saja yang masuk kota besar bahkan dapat langsung diekspor, sedangkan yang apkir dan potensial menjadi sampah dikota, tidak ikut terbawa dan dimanfaatkan dikonsumsi didesa ataupun menjadi pupuk organik. ™

( Ditulis : 11 September 2000 )

http://trimardjoko.wordpress.com/