Pesan-Pesan

Kamis, 02 Januari 2014

SMS 081235651111 untuk tahu awal waktu tanam dan prakiraan iklim.

Kementrian Pertanian menyediakan SMS centre pada nomor 081235651111 untuk mengakses info tersebut. Petani hanya diharuskan mengirim SMS dengan format INFO(spasi)KATAM(spasi)NAMA KECAMATAN dan dikirim ke SMS centre dengan tarif reguler.

Latar Belakang
Perubahan iklim merupakan gejala alam yang telah terjadi di tingkat global, regional, maupun lokal. Salah satu dampaknya adalah perubahan awal dan akhir musim tanam yang sangat berpengaruh terhadap pola tanam, luas tanam, dan produksi tanaman.
Akibat perubahan iklim, hampir setiap tahun petani berhadapan dengan pergeseran musim terkait dengan perubahan pola curah hujan. Selain itu, tidak jarang pula petani berhadapan dengan kondisi iklim yang ekstrim, baik kering (El-Nino) maupun basah (La-Nina). Kondisi iklim tersebut, memicu ancaman banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang berakibat pada penurunan produksi tanaman, bahkan gagal panen.
Perubahan pola curah hujan harus menjadi perhatian serius dalam mengatur pola termasuk waktu dan luas tanam, agar kesinambungan produksi dan kemandirian pangan nasional tidak terancam. Untuk itu, sangat diperlukan suatu pedoman berupa “Kalender Tanam Terpadu” yang didukung dengan sistem informasi berbasis web yang handal.

Definisi
Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu adalah pedoman atau alat bantu yang memberikan informasi spasial dan tabular tentang prediksi musim, awal waktu tanam, pola tanam, luas tanam potensial, wilayah rawan kekeringan dan banjir, potensi serangan OPT, serta rekomendasi dosis dan kebutuhan pupuk, varietas yang sesuai (pada lahan sawah irigasi, tadah hujan dan rawa) berdasarkan prakiraan iklim.
Manfaat dan Sasaran
  1. Menentukan waktu tanam setiap musim (MH, MK-1 dan MK-2).
  2. Menentukan pola tanam, rotasi tanam dan rekomendasi teknologi pada skala kecamatan.
  3. Menduga potensi luas tanam untuk mendukung sistem perencanaan tanam dan produksi tanaman pangan.
  4. Mengurangi resiko penurunan dan kegagalan produksi serta kerugian petani akibat banjir, kekeringan dan serangan OPT. Sistem Informasi Kalender
Tanam Terpadu disusun secara sederhana agar mudah dipahami oleh pemangku kepentingan, penyuluh, dan kelompok tani dalam mengatur kalender dan pola tanam sesuai dengan kondisi iklim.


Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Kementerian Pertanian

Jl. Ragunan 29, Pasar Minggu, Jakarta 12540, Indonesia
Telp. : 021-7806202
Fax. : 021-7800644
email: sekretariat@litbang.deptan.go.id
www.litbang.deptan.go.id


Kalender Tanam Terpadu Kec. Binuang





Ketahui Cuaca dan Iklim dengan SMS

Berikut adalah beberapa petunjuk singkat layanan SMS BMKG
SMS dikirim ke nomor 2303 tarif Rp.550/SMS
Fasilitas SMS BMKG hanya bisa digunakan bagi pengguna Indosat dan Telkomsel



Cyber Extension untuk Penguatan Penyuluhan Pertanian*)


Cyber Extension untuk Penguatan Penyuluhan Pertanian*)

11:30 WIB | Senin, 16 September 2013 | Opini | Penulis : Ahmad Soim
Oleh : Dr. Zahron Helmy
Tulisan ini mencoba untuk memperoleh jawaban bagaimana mengatasi lambatnya perkembangan sistem informasi pertanian melalui cyber extension dan bagaimana mendorong kesiapan penyuluh dalam memanfaatkan cyber extension? Sekaligus mencari dan menemukan strategi yang tepat dalam memanfaatkan cyber extension untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian.
Tentang kesiapan penyuluh menggunakan sistem informasi cyber extension, dari hasil penelitian saya dengan menggunakan analisis Structural Equation Model (SEM/ Model Persamaan Struktural),  diketahui bahwa penyuluh di Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Bekasi relatif belum memanfaatkan cyber extension.
Hal ini dikarenakan sebagian besar penyuluh belum mampu mengoperasionalkan komputer dengan jaringan internet. Terbatasnya perangkat cyber extension, bahkan sebagian besar BP3K belum ada fasilitas listrik, jaringan telepon, buruknya jaringan koneksi, ditambah dengan informasi yang dipublikasikan tidak terbarukan, menyebabkan cyber extension belum mampu memberikan solusi informasi bagi pemenuhan kebutuhan penyuluhan dan kebutuhan pelaku utama dalam berusahatani.
Penyelenggaraan cyber extension relatif belum berjalan secara efektif dan efisien. Terjadi "redundant" data, duplikasi kegiatan, dengan kualitas data yang dikumpulkan relatif masih rendah, belum sesuai kebutuhan, belum tepat waktu dan tidak up to date. Sistem umpan balik tidak berjalan optimal, pemanfaatan data/informasi di tingkat daerah (kabupaten/kota) untuk advokasi, perencanaan program, monitoring dan evaluasi relatif masih rendah.
Lambatnya perkembangan pemanfaatan cyber extension dikarenakan ketidaksiapan sumberdaya manusia pertanian/penyuluhan dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi digital untuk penyuluhan. Kurangnya sumberdaya manusia yang kompeten dalam pengelolaan cyber extension baik dalam pengoperasionalisasian perangkat termasuk perawatan dalam rangka keberlanjutan, maupun kemampuan metodologi penyuluh dalam menyusun, mengemas kembali materi penyuluhan, menyebabkan sistem informasi melalui cyber extension menjadi tidak optimal. Kondisi ini diperlihatkan dari hasil penelitian kepada penyuluh pertanian di Kabupaten Bekasi dan kabupaten yang sebagian besar belum mampu mengoperasionalkan komputer dan internet dan belum mampu menyusun dan mengemas informasi menjadi materi penyuluhan yang sesuai kebutuhan.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, permasalahan yang ingin diperoleh jawabannya dalam penelitian ini adalah bagaimana mengatasi lambatnya perkembangan sistem informasi pertanian melalui cyber extension dan bagaimana mendorong kesiapan penyuluh dalam memanfaatkan cyber extension? Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan menemukan strategi yang tepat dalam upaya optimalisasi sistem informasi pertanian melalui cyber extension dan meningkatkan kesiapan penyuluh pertanian dalam memanfaatkan cyber extension untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian.

Sumber  :  http://tabloidsinartani.com/content/read/cyber-extension-untuk-penguatan-penyuluhan-pertanian/

Rabu, 01 Januari 2014

Hari Kedua

alhamdulillah.... bangun pagi udah sholatan ,  sdh cuci muka walau blm  nyuci baju....wah wah  badan trasa segar mas bro, fikiran jg tenaaaang bngt,  si bench sdh nunggu nih buat didudukin sambil baca brita2 pagi, nulis nuliis, update data...eh status hehe..., perlengkapannya nih jangan lupa,  kopi ....weleh2 ini kopi penting biar darah mengalir deras ke otak, otak jd tokcer mikir bro. kopi mmng no.1 trus yg keduanya  ni temennya si kopi yaitu si r*kok...maaf sodara2 si no.2 ini mmng susah bangets di tinggal padahal ane sdh dari tahun lalu mencanangkan th ini ni sbg kawasan bebas dia, hiks nampaknya msh ada masalah deh (masalah sering didefinisikan dg "gap antara realitas dan keinginan ...xixi ... payah payah),  tp jgn keras keras ntar kedengeran para estri2 kita lho, yg no.1 itu ttp mereka khannn (kayak iklan kecap ya, slalu always no.1...xixixi tp pernyataan ini bnr2 dari lubuk hati yang paaaling dalam.... ssstt... siapa tau di baca). 
Ngomongin kopi dan sodaranya jd ingat lagu bang iwan .. jreng.. " segelas kopi sebatang r*okok, segurat catatan yg tersimpan, perempuan malam menunggu malam ... ),  stop stooop! ... maaf sorry kita pencet pause dulu, eh ada yg penting mas bro, coba perhatikan bait lagu bang iwan ini ... ada kopi..., ada r*kok...., ada catatan....,  naaaah ini dia mas booooy ...catatan . ini yg bikin ganjalan dari kmaren, catatan ... itu penting lo mas boy eh mas bro.... ini sdh hari kedua,  catat! kita  blm pada bikin catatan,  ...catatan apa ya den bagus ?.... ituuu catatan ttg destinasi kita tahun ini lho (jd kaya mas vicky saia)....iya destination itu lho... tentang tujuan tahun  ini apaa, nih misal th kmaren blm pada punya istri ni maka bikin catatan 1. bulan enam ntar  hrs punya istri.... hehe, bagi yg blm punya momongan tuliiis th ini hrs mulai menghamili  (istri kita maksudnya...), bg yg blm pada ngaji tuliiis tahun ini mau ikut program ODOJ ... apa tuh, itu bro One Day One Juz woooow keren..., bisa?,  bisa lho ... ngechat aja tahan 2 jam sampai jempol cenut cenut nyemut...hehe, trusss yg blm punya kebun tuliiis th ini pengen kredit kebun ( wkkk...kalo ada sih yg kreditan tanpa bunga). ini mas boy.... penting.... plan itu  penting asal jg plaaaan melulu, coba kita ingat plajaran SMP dulu  ...POAC.... planning organizing actuating en controlling ....cie ...nggak tau nih bener atau gak tulisannye,  pokoknya begitu lah....manajemen ya....,  ya penting itu, kata para begawan perencanaan sih. 
Nah skarang ambil buku baru....yg yg lama jg boleh, tulis dibagian belakangnya aja harapan2 kita tahun ini, target2 perbaikan  .... kalo perlu pake SWOT juga, ituuu  buat ngukur positioning kita, biar kita tau berada di kuadran berapa utk ngambil langkah berikutnya ....manajemen strategis a kalo para the master bilangnya.... kecantikan ilmu yg njelimet xixi...,  mumpung baru hari kedua januari lho dan jgn lupa perkataan om bob sadino " jangan banyak merencanakan, melangkahlah...." !

ok mas brosdh dulu,mau  mandi dulu nih .... siap ngantor... cie...

2nd Jan 2014, bench

Senin, 30 Desember 2013

MODEL DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN AGRIBISNIS



Suatu ketika saya pernah bertanya kepada seorang petani tentang hasil panen padi mereka ...."Pak gimana hasil panen padi bapak untuk musim tanam tahun ini, seraya Bapak tersebut menjawab " Yah lumayan tidak beli beras setahun....".
Saya berpikir kalo cuma bisa buat tidak beli beras setahun bagaimana dengan lauk, sayur, minyak goreng, gas, baju dan biaya sekolah anak2,  biaya ini dan itu yg kalo kita tuliskan akan sangat panjaaaang.

Jawaban bapak petani diatas tentu kita harapan bukanlah menjadi jawaban mayoritas petani di Indonesia, tentu ada cara agar para petani dengan segala keterbatasan mereka untuk maju sehingga memiliki keberdayaan yang kuat dalam memenuhi segala kebutuhan hidup mereka, bukan hanya untuk kecukupan beras setahun sahaja.  Mewujudkan kemakmuran bagi petani tentu tidaklah mudah karena ini juga mencakup berbagai aspek termasuk kebijakan dan Political Will pemerintah yang berkepentingan terhadap perkara strategis ini yaitu ketersediaan pangan yang cukup dan swasembada di Indonesia, tentu tanpa meninggalkan aspek kemakmuran para pelaku usaha yaitu bapakdani ibu tani kita. Membangun petani berjiwa agribisnis menjadi keharusan untuk mencapai hasil yang lebih baik, Malaysia telah mancanangkan ini sejak lama dengan motto mereka "Pertanian adalah Perniagaan" (http://www.youtube.com/watch?v=vGYP3RGCIr4) yang memotivasi kaum muda mereka untuk terjun dan bergelut dengan dunia pertanian sebagai BISNIS yang memiliki nilai jual sama dengan bisnis dibidang lainnya. 

Berikut sebuah tulisan oleh Drs.H. Sudradjat Laksana,M.Ikom tentang MODEL DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN AGRIBISNIS yang setidaknya memberikan sebuah alternatif pemikiran dalam upaya membangun pertanian  berbasis agribisnis.
MODEL DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PERTANIAN AGRIBISNIS  

Dalam arti yang sempit pertanian adalah usaha atau  kegiatan bercocok tanam. Sedangkan dalam arti luas pertanian adalah segala kegiatan manusia yang meliputi kegiatan bercocok tanam, perikanan, peternakan dan kehutanan. cocok tanam perikanan
Terkait dengan pertanian, maka dikenal istilah petani (farmer) dan usaha tani (farming). Petani adalah sebutan bagi mereka yang menyelenggarakan usaha tani, sebagai contoh “petani tembakau” atau “petani ikan”. Usaha Tani (farming) adalah sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budi daya (tumbuhan maupun hewan). Cakupan obyek pertanian yang dianut di Indonesia meliputi budidaya tanaman (termasuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan), kehutanan, peternakan, dan perikanan.
Ruang Lingkup Pertanian
Ada beberapa jenis pertanian berdasarkan perkembangannya yaitu:
  1. Pertanian ekstraktif, yaitu pertanian yang dilakukan dengan hanya mengambil atau mengumpulkan hasil alam tanpa upaya reproduksi. Pertanian semacam ini meliputi sektor perikanan dan ekstraksi hasil hutan.
  2. Pertanian generatif yaitu corak pertanian yang memerlukan usaha pembibitan atau pembenihan, pengolahan, pemeliharaan dan tindakan agronomis lainnya. Berdasarkan tahapan perkembangannya pertanian generatif dibedakan menjadi dua kelompok yaitu:
    1. Perladangan berpindah (shifting cultivation),
    2. Pertanian menetap (settled agricultured)
Selanjutnya berdasarkan ciri ekonomis yang lekat pada masing-masing corak pertanian dikenal dua kategori pertanian yakni pertanian subsisten dan pertanian komersial. Pertanian subsisten ditandai oleh ketiadaan akses terhadap pasar. Dengan kata lain produk pertanian yang dihasilkan hanya untuk memenuhi konsumsi keluarga, tidak dijual. Pertanian komersial berada pada sisi dikotomis pertanian subsisten. Umumnya  pertanian komersial menjadi karakter perusahaan pertanian (farm) di mana pengelola usahatani telah berorientasi pasar. Dengan demikian seluruh output pertanian yang dihasilkan seluruhnya dijual dan tidak dikonsumsi sendiri.
Pertanian Sebagai Kegiatan Ekonomi
Sebagai kegiatan ekonomi, pertanian dapat dipandang sebagai suatu sistem yang dinamakan agribisnis. Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Penyebutan "hulu" dan "hilir" mengacu pada pandangan pokok bahwa agribisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply chain). Dalam kerangka berpikir sistem ini, pengelolaan tempat usaha pembibitan,penyediaan input produksi,dan sarana produksi, biasa diistilahkan sebagai aspek “hulu”.  Sementara kegiatan pasca panen seperti ; distribusi, pengolahan, dan pemasaran dimasukkan dalam aspek “hilir”. Sedangkan Budidaya dan pengumpulan hasil merupakan bagian dari aspek proses produksi.
Agribisnis, dengan perkataan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan. Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran.
Agribisnis itu adalah suatu sistem yang utuh mulai sub-sistem penyediaan sarana produksi dan peralatan pertanian; sub-sistem usahatani; sub-sistem pengolahan atau agroindustri dan sub-sistem pemasaran. Agar sub-sistem ini bekerja dengan baik maka diperlukan dukungan sub-sistem kelembagaan sarana dan prasarana serta sub-sistem penunjang dan pembinaan.
Agribisnis sebagai suatu sistem
Agribisnis sebagai suatu sistem adalah agribisnis merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Disini dapat diartikan bahwa agribisnis terdiri dari dari berbagai sub sistem yang tergabung dalam rangkaian interaksi dan interpedensi secara reguler, serta terorganisir sebagai suatu totalitas.
Adapun kelima mata rantai atau subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
  1. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi
Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

  1. Subsistem Usahatani atau proses produksi
Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer. Disini ditekankan pada usahatani yang intensif dan sustainable (lestari), artinya meningkatkan produktivitas lahan semaksimal mungkin dengan cara intensifikasi tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya alam yaitu tanah dan air. Disamping itu juga ditekankan usahatani yang berbentuk komersial bukan usahatani yang subsistem, artinya produksi primer yang akan dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka

  1. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil
Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan, pembersihan, pengekstraksian, penggilingan, pembekuan, pengeringan, dan peningkatan mutu.

  1. Subsistem Pemasaran
Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.

  1. Subsistem Penunjang
Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi:
  1. Sarana Tataniaga
  2. Perbankan/perkreditan
  3. Penyuluhan Agribisnis
  4. Kelompok tani
  5. Infrastruktur agribisnis
  6. Koperasi Agribisnis
  7. BUMN
  8. Swasta
  9. Penelitian dan Pengembangan
  10. Pendidikan dan Pelatihan
  11. Transportasi
  12. Kebijakan Pemerintah
Strategi Pengembangan Agribisnis
Ada beberapa aspek yang dapat ditempuh dalam upaya mengembangkan kegiatan agribisnis diantaranya :
  1. Pembangunan Agribisnis merupakan pembangunan industri dan pertanian serta jasa yang dilakukan sekaligus, dilakukan secara simultan dan harmonis.
Yang sering kita dapatkan selama ini adalah industri pengolahan (Agroindustri) berkembang di Indonesia, tapi bahan bakunya dari impor. Dipihak lain, peningkatan produksi pertanian tidak diikuti oleh perkembangan industri pengolahan ( Membangun industri berbasis sumberdaya domestik/lokal). Sehingga perlu pengembangan Agribisnis Vertikal.
  1. Membangun Agribisnis adalah membangun keunggulan bersaing diatas keunggulan komparatif
Dalam arti bahwa membangun daya saing produk agribisnis melalui transformasi keunggulan komparatif menjadi keunggulan bersaing, yaitu dengan cara:
  • Mengembangkan subsistem hulu (pembibitan, agro-otomotif, agro-kimia) dan pengembangan subsistem hilir yaitu pendalaman industri pengolahan ke lebih hilir dan membangun jaringan pemasaran secara internasional, sehingga pada tahap ini produk akhir yang dihasilkan sistem agribisnis didominasi oleh produk-produk lanjutan atau bersifat capital and skill labor intensive.
  • Pembangunan sistem agribisnis yang digerakkan oleh kekuatan inovasi. Dengan demikian produk utama dari sistem agribisnis pada tahap ini merupakan produk bersifat Technology intensive and knowledge based.
  • Perlu orientasi baru dalam pengelolaan sistem agribisnis yang selama ini hanya pada peningkatan produksi harus diubah pada peningkatan nilai tambah sesuai dengan permintaan pasar serta harus selalu mampu merespon perubahan selera konsumen secara efisien..
       3.Menggerakkan kelima subsistem agribisnis secara simultan, serentak dan harmonis.
Untuk  menggerakkan Sistem agribisnis perlu dukungan semua pihak yang berkaitan dengan agribisnis/ pelaku-pelaku agribisnis mulai dari Petani, Koperasi, BUMN dan swasta serta perlu seorang Dirigent yang mengkoordinasi keharmonisan Sistem Agribisnis.
         4.Menjadikan Agroindustri sebagai A Leading Sector.
Agroindustri adalah industri yang memiliki keterkaitan ekonomi (baik langsung maupun tidak langsung) yang kuat dengan komoditas pertanian. Keterkaitan langsung mencakup hubungan komoditas pertanian sebagai bahan baku (input) bagi kegiatan agroindustri maupun kegiatan pemasaran dan perdagangan yang memasarkan produk akhir agroindustri. Sedangkan keterkaitan tidak langsung berupa kegiatan ekonomi lain yang menyediakan bahan baku(input) lain diluar komoditas pertanian, seperti bahan kimia, bahan kemasan, dll. Dalam mengembangkan agroindustri, tidak akan berhasil tanpa didukung oleh agroindustri penunjang lain seperti industri pupuk, industri pestisida, industri bibit/benih, industri pengadaan alat-alat produksi pertanian dan pengolahan agroindustri seperti industri mesin perontok dan industri mesin pengolah lain. 
         5.Membangun Sistem agribisnis melaluiIndustri Perbenihan
Industri Perbenihan merupakan mata rantai terpenting dalam pembentukan atribut produk agribisnis secara keseluruhan. Atribut dasar dari produk agribisnis seperti atribut nutrisi (kandungan zat-zat nutrisi) dan atribut nilai (ukuran, penampakan, rasa, aroma dan sebagainya) serta atribut keamanan dari produk bahan pangan seperti kandungan logam berat, residu pestisida, kandungan racun juga ditentukan pada industri perbenihan. Oleh karena itu Pemda perlu mengembangkan usaha perbenihan (benih komersial) berdasar komoditas unggulan masing-masing daerah, yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi industri perbenihan modern.
         6.Dukungan Industri Agro-otomotif dalam pengembangan sistem agribisnis.
Perlu  adanya rental Agro-otomotif yang dilakukan oleh Koperasi Petani atau perusahaan agro-otomotif itu sendiri.
         7.Dukungan Industri Pupuk dalam pengembangan sistem agribisnis.
Pada waktu yang akan datang industri pupuk perlu mengembangkan sistem Networking baik vertikal (dari hulu ke hilir) maupun Horisontal (sesama perusahaan pupuk), yaitu dengan cara penghapusan penggabungan perusahaan pupuk menjadi satu dimana yang sekarang terjadi adalah perusahaan terpusat pada satu perusahaan pupuk pemerintah. Oleh karena perusahaan-perusahaan pupuk harus dibiarkan secara mandiri sesuai dengan bisnis intinya dan bersaing satu sama lain dalam mengembangkan usahanya. Sehingga terjadi harmonisasi integrasi dalam sistem agribisnis. Serta perlu dikembangkan pupuk majemuk, bukan pupuk tunggal yang selama ini dikembangkan.
         8.Pengembangan Sistem Agribisnis melalui Reposisi Koperasi Agribisnis.
Koperasi perlu mereformasi diri agar lebih fokus pada kegiatan usahanya terutama menjadi koperasi pertanian dan mengembangkan kegiatan usahanya sebagai koperasi agribisnis. Untuk  memperoleh citra positif layaknya sebuah koperasi usaha misalnya: Koperasi Agribisnis atau Koperasi Agroindustri atau Koperasi Agroniaga yang menangani kegiatan usaha mulai dari hulu sampai ke hilir.
        9.Pengembangan Sistem Agribisnis melalui pengembangan sistem informasi agribisnis.
Dalam membangun sistem informasi agribisnis, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan adalah informasi produksi, informasi proses, distribusi, dan informasi pengolahan serta informasi pasar.
       10.Membumikan pembangunan sistem Agribisnis dalam otonomi daerah
Pembangunan Ekonomi Desentralistis-Bottom-up, yang mengandalkan industri berbasis Sumberdaya lokal. Pembangunan ekonomi nasional akan terjadi di setiap daerah.
        11.Dukungan perbankan dalam pengembangan sistem agribisnis di daerah.
Untuk membangun agribisnis di daerah, peranan perbankan sebagai lembaga pembiayaan memegang peranan penting. Ketersediaan skim pembiayaan dari perbankan akan sangat menentukan maju mundurnya agribisnis daerah. Selama ini yang terjadi adalah sangat kecilnya alokasi kredit perbankan pada agribisnis daerah, khususnya pada on farm agribisnis.
       12.Pengembangan strategi pemasaran
Pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat penting peranannya terutama menghadapi masa depan, dimana preferensi konsumen terus mengalami perubahan, keadaan pasar heterogen. Dari hal tersebut, sekarang sudah mulai mengubah paradigma pemasaran menjadi menjual apa yang diinginkan oleh pasar (konsumen).
       13.Pengembangan sumberdaya agribisnis.
Dalam pengembangan sektor agribisnis agar dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar, diperlukan pengembangan sumberdaya agribisnis, khususnya pemanfaatan dan pengembangan teknologi serta pembangunan kemampuan Sumberdaya Manusia (SDM) Agribisnis sebagai aktor pengembangan agribisnis.
       14.Pengembangan Pusat Pertumbuhan Sektor Agribisnis.
Perlu  pengembangan pusat-pusat pertumbuhan sektor agribisnis komoditas unggulan yang didasarkan pada peta perkembangan komoditas agribisnis, potensi perkembangan dan kawasan kerjasama ekonomi.
       15.Pengembangan Infrastruktur Agribisnis.
Dalam pengembangan pusat pertumbuhan Agribisnis, perlu dukungan pengembangan Infrastruktur seperti jaringan jalan dan transportasi (laut, darat, sungai dan udara), jaringan listrik, air, pelabuhan domestik dan pelabuhan ekspor dan lain-lain.

        16.Kebijaksanaan terpadu pengembangan
Ada beberapa bentuk kebijaksanaan terpadu dalam pengembangan agribisnis.
a. Kebijaksanaan pengembangan produksi dan produktivitas ditingkat perusahaan.
b. Kebijaksanaan tingkat sektoral untuk mengembangkan seluruh kegiatan usaha sejenis.
c. Kebijaksanaan pada tingkat sistem agribisnis yang mengatur keterkaitan antara beberapa sektor.
d. Kebijaksanaan ekonomi makro yang mengatur seluruh kegiatan perekonomian yang berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap agribisnis.
         17.Pengembangan agribisnis berskala kecil.
Ada 3 kebijaksanaan yang harus dilakukan adalah:
a. Farming Reorganization
Reorganisasi jenis kegiatan usaha yang produktif dan diversifikasi usaha yang menyertakan komoditas yang bernilai tinggi serta reorganisasi manajemen usahatani. Dalam hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang rata-rata kepemilikan hanya 0,1 Ha.
b. Small-scale Industrial Modernization
Modernisasi teknologi, modernisasi sistem, organisasi dan manajemen, serta modernisasi dalam pola hubungan dan orientasi pasar.
c. Services Rasionalization
Pengembangan layanan agribisnis dengan rasionalisasi lembaga penunjang kegiatan agribisnis untuk menuju pada efisiensi dan daya saing lembaga tersebut. Terutama adalah lembaga keuangan pedesaan, lembaga litbang khususnya penyuluhan.


            18.Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk mendukung pengembangan agribisnis dan ekonomi
Dalam era Agribisnis, aktor utama pembangunan agribisnis dan aktor pendukung pembangunan agribisnis perlu ada pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial dan berorganisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini perlu reorientasi peran penyuluhan pertanian yang merupakan lembaga pembinaan SDM petani. Oleh karena itu perlu peningkatan pendidikan penyuluh baik melalui pendidikan formal, kursus singkat, studi banding. Serta perlu perubahan fungsi BPP yang selama ini sebagai lembaga penyuluhan agro-teknis, menjadi KLINIK KONSULTASI AGRIBISNIS

Referensi Bacaan :
R.Hermawan, SP,MP.Membangun Sistem Agribisnis. Artikel online. Makalah Seminar Mahasiswa.tgl.20 Desember 2006. Faperta UGM Yogyakarta.
Wikipedia.com.Pengertian Agribisnis.

 [1] Mantan Kepala Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kab.Cianjur